Aku dapat hadiah istimewa dari Bapak sama Ibu, boleh pergi ke 
Bab 1:
Tol Merak-Pelabuhan Merak
Dari Sekretariat VVC (Volkswagen Van Club) di Pancoran, kita langsung ngacir ke beberapa tol, Tol Cileungsi? (bingung deh, tak tahu), Tol ………. (huh, lupa lagi!) dan Tol Merak. Macetnya minta ampun! (nih mobil lain kecuali mobil VVC mau pulang kampong ke Palembang juga ya????
)
Bab 2:
Di Kapal
Kapal ferry besar ………. (akh, lupa pula namanya!) mengantarku nyebrang ke Selat Sunda, dan aku sekursi sama Kak Icha. Aku nggak bisa tidur, paling nengok kapal dan ngeliat laut. Ofh…lautnya banyak banget sampahnya! (jangan-jangan orang yang suka lewat sini mau buang sampah). Di kabin udaranya dingin banget….jadi aku makan Pop Mie buat ngangetin diri (hm….angin malam dingin yach?).
NB: Di sini, aku ngeliat-liat dan psst….aku begadang, jam 12 aku lewatin, hihihi….
Bab 3:
Pelabuhan Bakauheni-Provinsi Lampung
Turun dari kapal ferry, kami sedang turun di Pelabuhan Bakauheni (pelabuhannya kebetulan di provinsi Lampung gitu).
dan…
zzzz…grook…akhirnya aku tertidur setelah memasuki gerbang “Selamat Datang di Provinsi Lampung” (hm, seandainya ini diinggriskan, jadi ‘Welcome to
Bab 4:
Bangun Tidur Kuterus Sarapan (gak mandi sama sekali pagi)
Eh…aku bangun jam berapalah. Kami melanjutkan perjalanan…sambil aku makan ayam. Tiba-tiba eh…stop! Ada VW Kombi ijo muda yang pesss…..kempes bannya (tertusuk paku, hm, ada yang nyebar paku yach?) Dan, ngisi anginnya luamaa banget…..hmmph
Bab 5:
Tulang Bawang (refueling)
Di Tulang Bawang, [kupikir ada tulang gede yang diatasnya ada bawang - makanan unik tuh
. Eh, tahu-tahunya salah satu kabupaten di Lampung (gak pernah kepikiran sebelumnya). Di sana kita ngisi bensin, dan aku HARUS menyesuaikan diri pipis di toilet jongkok (belum terbiasa soalnya).
Bab 6:
Rem Dibetulkan-Shalat di Rumah Kyai
Ada 2 VW Kombi yang dibetulkan remnya (aku juga gak tahu sebab rusaknya). Kita lalu ke rumah salah satu kyai untuk mampir shalat Jum’at.
Bab 7:
Ke Restoran Pagi Sore
Kita makan-makan di Pagi Sore. Aku makan ayam lagi (yah, I love ayam soalnya). Pas itu, lagi buru-buru banget, saking buru-burunya, sampe jaket jeans aku hadiah dari Ibu ketinggalan (hiks…bener-bener cerita sedih
).
Bab 8:
Hotel Bumi Asih
Kita sampai di hotel berbintang satu, Hotel Bumi Asih. Aku dapet kamar 404, di hotel berlantai empat ini. Kamarnya bagus banget, TVnya berapa inch tuh (hmm…bandingkan dengan TV hotel Sultan, gedean mana?). Bahkan, saking bagusnya, aku betah di kamar terus (emang udah kebiasaan
).
Bab 9 :
Griya Asih
Aih…inilah tempat kerja Gubernur Sulsel, tempat di mana aku betah banget (soalnya makan enak, sambil dengerin lagu). Oumpfh…makananku sate ayam (yah…yang penting masuk kategori ayamlah!) dan pudding coklat.
Yummy!
Bab 10:
Jembatan Ampera
Aku naik kapal ke Sungai Musi, dan turun di Pulau Kemaro. Pulau ini pulau peninggalan seorang raja Cina, dan aku lihat makamnya lho! (yang baca jangan sampai bulu kuduknya berdiri yach!) Ini perjalanan yang serunya luar biasa. Engga semua anggota rombongan lho bisa ikutan ke Pulau ini.
Terimakasih ya Pakde!
Bab 11:
Restoran Siang Malam
Aku mampir ke rumah makan Siang Malam. Makanannya yummy banget! Slurp…ada ayamnya ya (psst…tebak hayo aku makan apa??? Sudah pastilah aku makan ayamnya
)
Bab 12:
Pelabuhan Bakauheni-Kapal Ferry Besar
Aku duduk dekat Ketua Umum Volswagen
Pas bangun, aku minum ‘ramuan anti merem’ alias susu!
Bab 13:
Sekretariat VVC Jakarta
Sudah sampai di Jakarta.... !!! Aku makan bubur AYAM di Sekretariat VVC (mau bubur mau apa, pokoknya 4 Days itu juga aku teruuussss makan ayam!!!!!!!!!!
). Habis itu aku pulang deh ke rumah Eyang, baru kemudian dijemput Bapak kembali ke Bintaro. Ahhh home sweet home 






2 comments:
Minta pertolongan. Saya Nasir dari Malaysia. Ingin tahu berapa jauh Palembang Airport ke Tulang Bawang? Berapa rupiah jika naik taxi?
Boleh email kepada saya di synasir@hotmail.com
Terimakasih.
Kepada Bapak Nasir,
Sebenarnya itu saya belum pernah mengunjungi Palembang Airport, jadi belum jelas berapa jauh dari sana ke Tulang Bawang, maaf ya.
Yang kedua, maaf juga, karena saya tidak pernah naik taksi selama di Palembang, amat sangat minta maaf, jadi saya tidak pernah tahu berapa rupiah jika naik taksi.
Mudah-mudahan Pak Nasir berkenan.
Salam, Amanda.
Post a Comment