Tanggal lupa lagi…bulan lupa lagi…mungkin setahun yang lalu ya. Sorry, agak telat ceritanya.
Setahun yang lalu, aku diantar ibuku ke FAMILY DENTIST, tempat Dr. Wina kerja (dokter gigiku). Seminggu ketika aku diantar ke Dr. Wina, aku ditambal gigi berlubangnya. Sekarang, aku mau check-up gigi (biar tidak sulit dibersihkan).
Dokter Wina dengan senyumannya menyapaku. Dengan wajah ceria juga dia mengantarkanku ke ruang prakteknya. Nah, sampai di sana, aku disuruh duduk di kursi ‘astronot’.
Setelah beberapa lama di-check-up (meskipun tadi meringis kesakitan juga J) Dokter Wina memberi cermin. Perlahan, aku membuka mulut dan HAAH! Diantara gigiku, ada gigi berwarna perak. Perasaanku cukup malu, dan aku sangaaaaaaaaat malu.
Esoknya..ketika diantar Ibu dan Bapakku serta Adikku ke sekolah, aku kelihatan cemas. “Kenapa, Kak? Takut?” tanya Ibu “Iya, Bu” kataku pelan “Kenapa takut? Takut apa?” tanya Ibu. “Takut ditertawakan teman-teman…” sambil memegang lengan baju ibuku, aku berkata dengan cemas.
Sesampainya di sekolah, beberapa komentar terlontar dari teman-temanku. Misalnya…
“Itu gigi palsu ya, Najla?”
“Eh, eh, kok gigimu satu warna perak?”
“Kayaknya kamu pakai gigi palsu deh!”
“Kamu kok, pakai gigi palsu, sih?”
Keempat komentar di atas aku jawab dengan santai. “Gigi yang berwarna perak ini namanya cap” Bahkan, di buku komunikasi, ibuku sempat menulis tentang aku memakai cap. Jadi, ada larangan enggak boleh makan permen dan cokelat.
Sampai sekarang, aku berhenti makan permen dan cokelat.
Jadi, cap dan gigi hubungannya: cap membantu gigi supaya lubangnya tertutup dan lebih mudah dibersihkan.
28 September 2006
Subscribe to:
Posts (Atom)





