Aku mau tulis tentang 2 hari di Singapura sebelum berangkat ke Mauritius.Sampainya di airport wah aku sama ade sampai kaget lihat airportnya besar sekali ya! Kata ade, seperti mall kalau kata aku lebih besar dari mall. Kita sempat lihat ada counter F1 dan foto di sana.
Terus kita dijemput sama Oom Aria dan Cleo. Oom Aria itu oom aku dan ade, tinggalnya di Singapura, jadi dokter mata di sana. Tapi dia orang Indonesia lho! Cleo itu adeku, dia kembar, nanti ya ada ceritanya juga tentang Chloe saudara kembarnya.
Karena koper yang kita bawa ada 5, jadinya yang tiga dititipkan dulu sama Bapak ke petugas airport. Sayang tempat penitipan jauh jadi aku tunggu sama Eyang, Oom Aria, Cleo dan Aiko saja ya. Terus karena koper yang dua juga cukup besar, jadi kami dibagi dua. Eyang sama Ibu dan Aiko ikut Oom Aria. Kalau aku sama Bapak naik taxi. Wah, jalur antrinya taxi seperti di dufan ya, panjang sekali! Tapi untung sudah malam jadi tidak terlalu bamyak orang kok.
Oom Aria dan Cleo antar kami sampai hotel. Terus di sana ketemu sama Tante Femmy dan Chloe. Asik, terus kita makan pizza di depan hotel sambil main lari-larian di taman rumput yang besar banget! Bapak ngobrol sama Oom Aria terus Ibu juga ngobrol sama Tante Femmy dan Eyang. Wah semuanya sibuk sampai tak terasa sudah malam ya, Aiko sudah ngantuk tuh. Jadi kami kembali ke hotel buat tidur.
Pagi-pagi, Bapak sama Ibu pergi ke luar beli roti dan jus. Di hotel bisa bikin air panas lho jadi minumm teh dan kopi bisa buat sendiri tidak perlu beli! Kami cepat mandi karena hari ini hari besar buat aku dan ade. Kami mau naik MRT. Ternyata hotelnya memang tidak besar ya, tapi dipilih Bapak karena ada di depannya stasiun jadi kita jalan kaki ke sana.
Oke, pelajaran pertama adalah beli tiket. Ada gambar untuk ukur tinggi badan. Kalau lebih tinggi dari gambar itu berarti harus beli tiket. Waaah aku engga sabar nih, gimana ya cara beli tiket. Aku lihat orang-orang cepat banget pencet tombol. Bapak mau ajarin aku tapi tunggu dulu katanya sampai ketemu mesin yang tidak banyak antriannya soalnya takutnya kan orang lain tidak sabar kalau Bapak lagi mengajari aku terus mereka jadinya terlambat sampai tujuan gara-gara kelamaan beli tiket.
Jadi setelah baca tujuan di petanya, kita tahu harus tekan tombol yang mana. Terus kita harus tambahkan 1 dollar untuk disimpan mesinnya. Kata Bapak, itu gunanya supaya kita berhati-hati jangan sama kartu tiketnya hilang. Kalau kita bisa jaga kartunya baik-baik, nanti sampai di stasiun tujuan bisa kita masukkan lagi ke mesin, terus uang yang 1 dollar itu akan keluar lagi untuk kita. Seru!
Sudah ada kartu tiket, kami masing-masing harus belajar pegang sendiri. Kata Bapak, lihat caranya orang-orang masuk pintu stasiun pakai kartu itu. Lalu kami tirukan deh. Ternyata tidak terlalu susah tapi tidak boleh buru-buru tunggu lampunya sampai hijau.
Dari situ kita cari ke mana arah tujuannya. Harus lihat nama stasiun yang paling akhir supaya tidak salah arah. Nah terus tunggu di depan pintu. Ada banyakk gambar panah di lantainya. Itu untuk tanda, tempat orang antri untuk masuk beda sama jalur orang keluar dari keretanya. Soalnya biar nggak macet ya. Di mana-mana ada tulisan jangan lupa mendahulukan orang yang mau keluar dari kereta, sekali lagi itu supaya nggak macet karena pintu keretanya kan otomatis tertutup. Kalau sampai macet bagaimana, nanti kita tidak bisa masuk dan yang harus turun di stasiun itu juga tidak bisa keluar, wah bisa repot!
Aku baca dengar banyak juga yang bicaranya bahasa Indonesia. Tapi kalau tulisan agak aneh ya bahasa Indonesianya. Kata Ibu itu namanya Bahasa Melayu. Orang Malaysia bicara bahasa Melayu, orang Singapura juga ada yang Melayu ya.
Di dalam kereta yang duduk cuma Eyang. Ada tulisannya juga bahwa kalau ada orang yang sudah tua atau yang bawa anak-anak, sebaiknya tempat duduknya diberikan kepada mereka. Tapi aku sama ade senang kok berdiri. Sama ya keretanya seperti kereta yang kita naiki waktu ke Kebun Raya. Tapi kata ade keretanya lebih terang dan di luar lebih gelap. Oh kata Bapak itu karena kita adanya di bawah tanah. Waaah, serem juga kalau tanah yang di atasnya jatuh, kita bagaimana?
Habis naik MRT kita sambung naik bus. Sama juga pas mau masuk bus kita harus antri dan menunggu yang di depan kita bayar. Aku lihat ada yang bayar pakai uang, tapi ada juga yang pakai kartu. Bapak tanya dulu sama supir bus harus bayar berapa. Tujuan kita ke kebun binatang.
Rupanya kebun binatang jauh juga ya. Di dalam bus rasanya lama sekali, tapi aku sih senang banyak bisa lihat bagaimana kota Singapura. Kalau di tengah memang banyaknya gedung tinggi seperti mall dan kantor-kantor ya. Tapi di pinggirnya banyak juga lapangan rumput dan bangunan yang pendek. Kalau ade sih tidur, dia kan mungkin masih mengantuk dari kemarinnya ya.
Sampai di kebun binatang, kami beli roti dulu karena perut lapar sekali. Habis itu beli tiket masuk dan kami keliling-keliling sampai kakinya mau copot semua, kata Eyang. Tapi senang ya, lihat macam-macam binatang dan tanaman. Ada banyak tulisan menceritakan tentang binatang, jadi aku sambil jalan-jalan bisa belajar. Ada satu tempat yang aku suka banget, cerita tentang hutan dan di dalamnya juga ada cerita tentang suku Asmat! Hei itu kan suku di Indonesia ya!! Lalu aku minta Ibu foto tulisan yang bagus sekali supaya ingat kalau lihat pohon harus dijaga lho. Wahduh, aku jadi ingat waktu disuruh cari puisi tentang melindungi bumi di sekolahku Dwi Matra. Coba waktu itu aku sudah tahu ya tentang puisi ini, pasti cocok sekali dengan tugasnya!
"Only after the last tree has been cut down
Only after the last river has been poisoned
Only after the last fish has been caught
Only then will you find
that money cannot be eaten"
Di tempat ini juga ada miniatur tentang bagaimana Rain Forest bisa membantu melindungi bumi. Itu seperti pelajaran Science yang diajarin sama Pak Achyus ya, bagus banget! Coba aku bisa ceritain sama teman-temanku.
Kami terus sampai di playground. Bagus banget! Ada tempat main air segala. Aku sama ade puas banget main di sana, terus kami makan siang dan melanjutkan jalan kaki sambil lihat macam-macam binatang dan tanaman lagi. Eyang ketemu sama kebun anggrek yang bagus sekali. Difoto juga sama Ibu. Wah, Eyang pasti kepingin ya anggrek di rumah bisa seperti yang kita lihat di sana.
Akhirnya kami selesai juga melihat kebun binatang yang luas itu. Binatangnya banyak yang aku belum pernah lihat, lucu-lucu tapi ada juga yang seram. Adeku juga senang banget, apalagi lihat pinguin sama zebra dari dekat. Kami juga lihat beruang es yang warnanya putih. Tapi sepertinya dia kepanasan karena bulunya pada rontok dan dia tidak terlalu semangat seperti binatang-binatang lainnya ya.
Nah itu sih ceritaku dari Singapura. Kami pergi juga ke tempat lain, terutama diajakin sama Oom Aria dan Tante Femmy. Kami lihat Merlion yang lambangnya Singapura itu. Terus kami juga main ke rumah Oom Aria di apartemennya namanya Springdale. Asik sekali ke mana-mana bisa naik MRT. Lama-lama aku lancar juga beli tiket dari mesin (ssst tapi masih cari mesin yang antriannya tidak banyak orang). Aku dan ade juga bisa cukup tertib ternyata jaga tiketnya. Ohya! ade itu sudah bisa lho meminta kembali uang 1 dollarnya dari mesin tiket.
Seru banget di Singapura. Aku paling suka naik MRT dan menyebrang jalan menunggu lampu yang gambar orang itu. Bukan cuma kendaraan bermotor ya yang pakai lampu merah. Aku juga suka karena bisa puas main dengan sepupu-sepupuku, Cleo sama Chloe. Habis kalau di Jakarta ketemunya cuma sebentar dan tidak bisa lari-larian.
Aku juga senang lihat gambar singa kecil yang mungkin seperti maskotnya Singapura juga ya, dikelilingin gambar hati warna-warni terus ada tulisannya : Courtessy, try a little kindness... Kata Ibu itu supaya kita enggak lupa ada orang lain juga di tempat umum, jadi kalau berdiri nggak boleh di tengah jalan, harus mau antri, harus kasih tempat duduk sama yang lebih susah kalau berdiri.
Tapi aku juga ada sedih di Singapura. Karena itu malam terakhir aku bisa bobo sama Eyang. Besoknya pagi-pagi sekali sudah berangkat ke Mauritius. Sampai jumpa lagi Eyang!
catatan:
aku tidak bisa taruh fotonya banyak di sini, jadi nanti lihat di album foto saja ya. maaf





